Budaya Tabe Mulai Tergerus

REDAKSI
26 Agu 2026 01:33
Artikel 0 2
3 menit membaca

TOSIL.ID, SELAYAR – Ada satu kata sederhana yang dahulu hampir selalu terdengar ketika seseorang hendak melintas di depan orang lain, tabe.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Kepulauan Selayar, tabe bukan sekadar ucapan permisi. Kata ini merupakan bagian dari tata krama sekaligus bentuk penghormatan kepada orang lain.

Para orang tua dahulu mengajarkan tabe sejak anak masih kecil. Ketika hendak melewati orang yang lebih tua, seseorang dianjurkan mengucapkan tabe sembari sedikit membungkukkan badan dan mengulurkan tangan. Gerakan sederhana itu menjadi penanda bahwa seseorang menghargai keberadaan orang lain.

Namun, kebiasaan tersebut kini perlahan mulai tergerus.

Pantauan awak media di sejumlah tempat dan keramaian di Sulawesi Selatan, khususnya di Kepulauan Selayar, menunjukkan budaya tabe tidak lagi sesering dahulu dilakukan. Fenomena itu terutama terlihat pada sebagian generasi muda. Ada remaja yang melintas di depan orang yang lebih tua maupun teman sebaya tanpa mengucapkan tabe atau melakukan gestur permisi.

Bagi generasi terdahulu, kebiasaan semacam itu tentu terasa berbeda. Melewati seseorang tanpa meminta izin dianggap kurang menunjukkan kesopanan.

Dalam budaya masyarakat Sulawesi Selatan, tabe memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar meminta jalan.

Ucapan itu mengajarkan seseorang untuk menghormati orang lain, menjaga sikap, sekaligus memahami bahwa ruang sosial adalah milik bersama.

Ketika seseorang mengatakan tabe sambil sedikit membungkukkan badan, terdapat pesan sederhana yang disampaikan: saya permisi, saya menghargai Anda, dan saya tidak bermaksud mengganggu.

Karena itu, tabe menjadi salah satu bentuk pendidikan karakter yang berlangsung secara alami di tengah keluarga dan masyarakat.

Anak tidak harus mengikuti pelajaran khusus untuk memahaminya. Mereka cukup melihat orang tua mempraktikkannya setiap hari, kemudian menirunya ketika berada di tengah masyarakat.

Kini, praktik tersebut semakin jarang terlihat. Tentu tidak berarti seluruh generasi muda telah meninggalkan budaya tabe. Masih banyak anak muda yang tetap menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, berkurangnya frekuensi penggunaan tabe menjadi tanda bahwa tradisi tersebut perlu kembali diperkenalkan dan dibiasakan.

Perubahan pola pergaulan, perkembangan teknologi, hingga kehidupan generasi muda yang semakin lekat dengan dunia digital ikut memengaruhi cara seseorang berinteraksi.

Tradisi yang dahulu ditanamkan langsung oleh orang tua di rumah kini menghadapi tantangan baru. Jika tidak terus dipraktikkan, budaya tersebut berpotensi hanya dikenal sebagai cerita dari generasi sebelumnya.

Padahal, tabe sangat sederhana.

Tidak membutuhkan biaya. Tidak membutuhkan waktu lama. Bahkan hanya terdiri dari satu kata, tabe.

Tetapi di balik kata itu terdapat nilai tentang kesopanan, penghormatan, kerendahan hati, dan kesadaran untuk hidup berdampingan dengan orang lain.

Berkurangnya budaya tabe bukan semata-mata persoalan hilangnya sebuah kata dalam percakapan. Lebih dari itu, ada nilai kearifan lokal yang ikut dipertaruhkan.

Karena budaya pada dasarnya tidak cukup hanya dikenalkan. Budaya harus dilakukan.

Orang tua dapat kembali mengajarkan tabe di rumah. Guru dapat mengingatkan pentingnya etika tersebut di lingkungan sekolah. Sementara generasi muda dapat menjadikannya bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Tidak harus menunggu acara adat atau pertemuan resmi.

Di rumah, di sekolah, di pasar, di tempat nongkrong, maupun ketika berada dalam sebuah keramaian, tabe tetap relevan.

Pertanyaannya kini bukan hanya apakah generasi muda masih mengenal kata tabe.

Tetapi, apakah mereka masih mau menggunakannya?

Sebab sebuah budaya tidak selalu hilang karena dilarang. Ia bisa menghilang perlahan karena tidak lagi dilakukan.

Dan tabe, yang dahulu menjadi kebiasaan sederhana masyarakat Selayar dalam menghormati sesama, kini membutuhkan satu hal untuk tetap hidup, kemauan generasi berikutnya untuk mengucapkannya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x